INTRAKSI.com — Upaya diplomatik antara Thailand dan Kamboja terus bergulir di tengah situasi yang masih genting pasca-bentrokan mematikan di wilayah perbatasan kedua negara.
Pertemuan lanjutan digelar di Malaysia pada Senin (4/8), menandai awal dari serangkaian dialog penting demi menstabilkan gencatan senjata yang rapuh.
Pertemuan ini berlangsung seminggu setelah lima hari pertempuran intens yang menewaskan puluhan orang dan memaksa ratusan ribu warga mengungsi. Konflik perbatasan tersebut merupakan yang terburuk dalam lebih dari satu dekade terakhir.
Dialog di Malaysia dijadwalkan akan berlanjut hingga Kamis (7/8), dengan kehadiran langsung Menteri Pertahanan dari kedua negara.
Selain itu, perundingan juga diawasi oleh perwakilan dari negara-negara kunci seperti Tiongkok, Malaysia, dan Amerika Serikat.
Menurut Panglima Angkatan Bersenjata Malaysia, Jenderal Mohd Nizam Jaffar, agenda utama dari pertemuan ini adalah menyusun langkah konkret untuk menjaga keberlanjutan gencatan senjata, serta membentuk tim pemantau dari ASEAN guna menghindari konflik susulan di masa mendatang.
Konflik Berdarah yang Belum Usai
Bentrok militer yang pecah bulan lalu menyebabkan sedikitnya 43 orang tewas, termasuk warga sipil, dan lebih dari 300.000 orang terpaksa mengungsi.
Ketegangan bermula sejak Mei, saat seorang tentara Kamboja tewas dalam insiden perbatasan.
Situasi semakin memburuk setelah beberapa prajurit Thailand mengalami luka akibat ranjau darat di wilayah sengketa.
Kedua negara sempat menurunkan level hubungan diplomatik, saling tuding sebagai pemicu kekerasan, dan melancarkan serangan terbuka yang mencakup baku tembak, artileri, hingga serangan udara.
Gencatan senjata akhirnya diumumkan pada 28 Juli, sebagian karena tekanan ekonomi dari Presiden AS Donald Trump, yang memperingatkan bahwa kedua negara tidak akan bisa menandatangani kesepakatan dagang dengan Washington jika konflik terus berlanjut.
Meski tidak ada serangan besar pasca-penetapan gencatan senjata, ketegangan tetap tinggi. Kementerian Pertahanan Kamboja menuduh Thailand melanggar kesepakatan dengan memasang kawat berduri di wilayah yang disengketakan.
Sebaliknya, militer Thailand menuding Kamboja memperkuat posisi pasukannya di sejumlah titik strategis.
Kedua pihak bahkan mengorganisir kunjungan media internasional ke lokasi-lokasi bentrok, saling menunjukkan bukti kehancuran yang dituding disebabkan oleh lawan masing-masing.
Tuduhan pelanggaran hukum humaniter internasional juga saling dilontarkan, terutama terkait serangan terhadap warga sipil.
Phnom Penh sendiri juga terus menuntut pembebasan 18 tentara Kamboja yang ditangkap oleh Thailand. Namun, Bangkok bersikukuh bahwa pembebasan hanya akan dilakukan setelah “seluruh konflik bersenjata benar-benar berakhir, bukan sekadar gencatan senjata.”
Pada Jumat lalu, Thailand memulangkan dua tentara Kamboja yang terluka melalui pos perbatasan di Provinsi Surin. Namun, kedua negara masih berselisih soal kronologi penangkapan para prajurit tersebut.
Kamboja mengklaim mereka datang untuk menyampaikan salam damai, sementara Thailand menepis versi tersebut.
ASEAN Diharapkan Jadi Kunci Penengah
Dengan keterlibatan ASEAN sebagai pengamat independen, pertemuan di Malaysia diharapkan bisa menjadi momentum penting untuk meredakan konflik dan membangun kepercayaan antarnegara.
Namun, mengutip Al-Jazeera, banyak analis memperingatkan bahwa tanpa solusi jangka panjang atas sengketa perbatasan yang telah berlangsung lama, potensi bentrok susulan tetap menghantui kawasan.
Trending








































Kolom Komentar