INTRAKSI.com — Suhu panas di Gaza tidak hanya membawa debu dari bangunan yang hancur, tetapi juga bau menyengat akibat krisis kemanusiaan yang semakin memburuk. Dalam 24 jam terakhir, delapan penduduk Palestina meninggal akibat kelaparan. Yang mengecewakan, dunia belum mampu menemukan jalan tengah untuk menghentikan penderitaan ini.
Perdana Menteri ‘Israel’ Benjamin Netanyahu saat ini sedang mempertimbangkan pengambilalihan keseluruhan wilayah Jalur Gaza, menurut laporan.Channel 12pada Selasa, 5 Agustus 2025.
Rencana ini muncul setelah negosiasi perdamaian dengan Hamas mengalami kegagalan total, tekanan internasional semakin meningkat, dan jumlah korban jiwa akibat serangan militer ‘Israel’ melebihi 61.000 orang.
“Masih diperlukan untuk menyelesaikan kekalahan musuh di Gaza, membebaskan tawanan, serta memastikan Gaza tidak lagi menjadi ancaman bagi ‘Israel’,” ujar Netanyahu di depan pasukan baru ‘Israel’, dilaporkanReuters.
Negosiasi terkendala, opsi militer kembali dibahas
Berdasarkan laporan, Netanyahu mengadakan pertemuan rahasia dengan Menteri Pertahanan ‘Israel’ Katz, Kepala Staf Militer Eyal Zamir, serta Menteri Urusan Strategis Ron Dermer, guna membahas strategi terbaru menjelang rapat kabinet minggu ini.
Lembaga media ‘Israel’ mengungkapkan bahwa opsi paling ekstrem—penguasaan penuh atas wilayah Gaza—sedang dipertimbangkan secara serius, meskipun belum jelas apakah hal ini berarti pendudukan jangka panjang atau operasi sementara untuk menghancurkan kekuatan Hamas dan membebaskan tahanan yang tersisa.
Pernyataan resmi dari kantor Netanyahu belum dirilis, tetapi tanda-tanda yang agresif telah memicu kekhawatiran internasional.
Kementerian Kesehatan Gaza melaporkan, dalam 24 jam terakhir, delapan orang meninggal akibat kelaparan atau kekurangan gizi, sementara 79 orang lainnya tewas karena serangan udara terbaru.
Sejak agresi dan pembunuhan massal dimulai pada Oktober 2023, sebanyak 188 warga Palestina—termasuk 94 anak-anak—telah meninggal akibat kelaparan. Lembaga pengawas global menggambarkan kondisi ini sebagai “kelaparan yang sedang berlangsung.”
Namun, seorang pejabat keamanan ‘Israel’ menyangkal laporan tentang kelaparan besar-besaran. Ia mengakui “kemungkinan terjadi kelaparan di beberapa wilayah” tetapi menyebut istilah kelaparan sebagai “terlalu berlebihan”.
Video sandera yang mengguncang
Beberapa hari sebelumnya, Hamas merilis rekaman video Evyatar David, salah satu dari 50 tahanan yang masih tersisa. Tubuhnya terlihat kurus dan lemah, duduk di dalam terowongan bawah tanah. Video tersebut memicu kemarahan masyarakat ‘Israel’ dan menghidupkan kembali desakan untuk membebaskan para tahanan.
Diplomasi antar negara yang sebelumnya berhasil mencapai gencatan senjata dan pertukaran tawanan kini mengalami kebuntuan. ‘Israel’ dikabarkan telah membatalkan gencatan terakhir tanpa adanya kesepakatan.
Seorang pejabat Palestina menyatakan, rencana pendudukan penuh mungkin merupakan strategi tekanan terhadap Hamas. Sementara itu, Kementerian Luar Negeri Palestina meminta komunitas internasional untuk menganggap serius ancaman tersebut.
“Apakah ini hanya tekanan psikologis atau benar-benar akan dilakukan, dunia perlu segera mengambil tindakan,” kata juru bicara kementerian dalam pernyataan resmi.
Ketidaksepahaman internal mulai terlihat. Menteri Keamanan Nasional dari sayap kanan, Itamar Ben Gvir, secara terbuka menguji Kepala Staf Militer Eyal Zamir untuk menyatakan kesetiaannya terhadap keputusan politik jika pengambilalihan penuh disahkan.
Pernyataan tersebut segera diikuti oleh pernyataan dari Menteri Luar Negeri Gideon Saar dan Menteri Pertahanan Katz, yang menekankan bahwa militer akan melaksanakan segala keputusan yang ditetapkan, sambil tetap mempertahankan profesionalisme.
Suara dari Gaza: “Ke mana lagi kita bisa pergi?”
Di tengah kekacauan dan pengepungan, sebuah suara terdengar dari puing-puing di Khan Younis:
“Jika tank masuk, kami harus pergi ke mana? Ke laut? Ini seperti putusan kematian bagi kami semua,” kata Abu Jehad, seorang pedagang kayu.
Berdasarkan laporan lapangan, hanya tersisa seperempat wilayah Gaza yang belum sepenuhnya dikuasai oleh militer ‘Israel’, dan kini wilayah tersebut menghadapi ancaman menjadi target berikutnya. Setiap pergerakan tank menjadi tanda kematian bagi penduduk yang masih bertahan. (*)
Trending








































Kolom Komentar