INTRAKSI.com — Proyek besar Kereta Cepat Jakarta-Bandung (KCJB) atau Whoosh Pemikiran yang diusung pada masa Presiden Joko Widodo (Jokowi) memberatkan keuangan beberapa Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Laporan terbaru menunjukkan, konsorsium BUMN yang tergabung dalam PT Pilar Sinergi BUMN Indonesia (PSBI) mengalami kerugian hingga miliaran rupiah.
Pembengkakan Biaya Proyek KCJB
Pembangunan KCJB dimulai pada tahun 2016 dengan anggaran rencana sebesar Rp 86,67 triliun. Namun, hasil audit bersama antara Indonesia dan Tiongkok menemukan adanya peningkatan biaya ataucost overrunsebesar 1,2 miliar dolar AS, setara dengan Rp18,02 triliun. Akibatnya, keseluruhan biaya proyek meningkat menjadi sekitar 7,27 miliar dolar AS atau Rp108,14 triliun.
Mayoritas pendanaan proyek ini berasal dari pinjaman China Development Bank (CDB). Sisanya didukung oleh modal konsorsium BUMN Indonesia bersama mitra Tiongkok, serta sebagian dibiayai melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
BUMN Catat Kerugian Triliunan
Kerugian terbesar di alami oleh PT Pilar Sinergi BUMN Indonesia (PSBI), yang merupakan entitas asosiasi dari PT Kereta Api Indonesia (KAI) dan memiliki mayoritas saham di PT KCIC. Dalam laporan keuangan tahun 2024, PSBI mencatat kerugian sebesar Rp 4,195 triliun. Hingga pertengahan 2025, kerugian tersebut terus berlanjut dengan angka mencapai Rp 1,625 triliun.
Dampak kerugian ini secara langsung dirasakan oleh KAI dan perusahaan BUMN yang tergabung dalam konsorsium. Selama semester pertama tahun 2025, KAI sebagai pemimpin konsorsium mengalami kerugian sebesar Rp 951,48 miliar.
Pada tahun 2024, kerugian yang dialami KAI mencapai angka Rp 2,23 triliun. Sejak layanan Whoosh mulai beroperasi secara komersial pada Oktober 2023, pendapatan yang diperoleh masih belum cukup untuk menutupi biaya investasi dan bunga pinjaman.
Struktur Konsorsium KCIC
Konsorsium KCIC dibentuk berdasarkan kerja sama antara Indonesia dan Tiongkok. Dari pihak Indonesia, terlibat empat BUMN yaitu PT Kereta Api Indonesia (KAI), PT Wijaya Karya, PT Jasa Marga, serta PTPN VIII.
Di sisi lain, pihak Tiongkok melibatkan China Railway International Company Limited, China Railway Group Limited, CRRC Corporation Limited, Sinohydro Corporation Limited, dan China Railway Signal and Communication Corp.
Dalam struktur kepemilikan, PT Pilar Sinergi BUMN Indonesia memiliki 60 persen saham, sementara konsorsium perusahaan Tiongkok menguasai 40 persen. Dengan pembagian ini, kerugian yang muncul dari operasi Whoosh juga dibebankan kepada seluruh pemegang saham.
Restrukturisasi Utang Jadi Opsi
Beban utang dan kerugian yang besar menyebabkan proyek KCJB kini masuk dalam daftar prioritas restrukturisasi yang dilakukan oleh Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara). CEO BPI Danantara, Rosan Roeslani, mengungkapkan bahwa pihaknya sedang melakukan penilaian agar proses restrukturisasi dapat mencakup seluruh aspek dan tidak hanya sekadar menunda permasalahan.
Rosan belum mengungkapkan rincian langkah yang akan diambil, tetapi menegaskan bahwa rencana restrukturisasi akan diumumkan pada waktunya. Di sisi lain, COO BPI Danantara, Dony Oskaria, menambahkan bahwa pihaknya telah menyiapkan beberapa opsi penyelesaian yang akan disampaikan kepada pemerintah.
Menurut Dony, proses restrukturisasi merupakan langkah yang penting agar BUMN yang terlibat, khususnya KAI sebagai pemimpin konsorsium, tetap mampu mempertahankan kinerja keuangannya di tengah tekanan utang besar dari proyek Whoosh.
Trending








































Kolom Komentar