Narasi Motivasi “Semua Orang Bisa Jadi Miliarder” yang Menyentuh Kehidupan Banyak Orang
Dalam beberapa waktu terakhir, narasi motivasi yang menyatakan bahwa semua orang bisa menjadi miliarder asalkan bekerja keras kembali viral di media sosial. Pesan ini sering disampaikan oleh tokoh publik dan para motivator, seolah-olah kekayaan hanya bergantung pada kemauan dan usaha seseorang. Namun, narasi tersebut mendapat banyak kritik karena dinilai tidak adil dan tidak menggambarkan realitas hidup banyak orang.
Banyak individu yang sudah berusaha keras tetapi masih kesulitan memenuhi kebutuhan dasar mereka. Hal ini memicu pertanyaan tentang bagaimana psikolog melihat narasi seperti ini. Dalam wawancara dengan Intraksi.com, Ratna Yunita Setiyani Subardjo, seorang psikolog dan dosen dari Universitas ‘Aisyiyah Yogyakarta, menjelaskan bahwa narasi tersebut cenderung tidak adil dan tidak dapat digeneralisir.
Perbedaan Titik Awal yang Berbeda
Ratna menekankan bahwa tidak semua orang memiliki kesempatan yang sama untuk memulai. “Faktanya, tidak semua orang memulai dari titik yang sama,” ujarnya. Ada yang harus bekerja dari pagi hingga malam hanya untuk memenuhi kebutuhan makan hari ini, sementara yang lain bisa fokus membangun aset sejak muda karena kebutuhan dasar mereka sudah tercukupi.
Dalam situasi seperti ini, kerja keras saja belum cukup. Akses terhadap peluang, kesehatan, pendidikan, serta dukungan sosial juga turut memengaruhi hasil akhir seseorang. Ratna menambahkan bahwa narasi motivasi ini bisa berdampak negatif pada kesehatan mental orang-orang yang sudah bekerja keras namun tetap kesulitan memenuhi kebutuhan hidupnya.
Dampak Negatif pada Kesehatan Mental
Beberapa dampak yang muncul antara lain rasa bersalah dan kegagalan yang tidak adil karena merasa tidak cukup baik atau tidak cukup keras berusaha. Selain itu, ada kecemasan dan stres karena merasa tidak mampu mencapai tujuan yang dianggap mudah oleh narasi tersebut. Penurunan motivasi dan kepercayaan diri juga bisa terjadi karena merasa tidak berhasil meskipun sudah berusaha keras.
Selain itu, ratna menyoroti bahwa narasi ini juga dapat memicu rasa bersalah atau kegagalan pada orang-orang yang berasal dari latar belakang ekonomi yang berbeda. Alasannya adalah karena narasi tersebut mengabaikan faktor-faktor struktural yang memengaruhi kemampuan seseorang untuk mencapai kesuksesan, seperti akses ke pendidikan, sumber daya, dan jaringan.
Cara Menyikapi Narasi Motivasi
Jika ada seseorang yang memberikan motivasi tersebut, Ratna menyarankan untuk menyikapinya dengan realistis dan tidak mengabaikan kenyataan. “Tidak mengabaikan kenyataan dan tetap realistis saja, karena titik mulai tiap orang berbeda,” katanya.
Beberapa hal yang disarankan Ratna agar seseorang tidak merasa gagal dan tetap realistis setelah mendengar motivasi yang beredar antara lain:
- Mengenali bahwa kesuksesan tidak hanya ditentukan oleh kerja keras, tetapi juga oleh faktor-faktor lain seperti kesempatan, akses ke sumber daya, dan dukungan sosial.
- Mengakui bahwa setiap orang memiliki kelebihan dan kekurangan, dan bahwa kesuksesan dapat diukur dalam berbagai cara.
- Fokus pada kemajuan dan pencapaian individu, bukan membandingkan diri dengan orang lain.
- Membangun kesadaran bahwa kegagalan dan kesulitan adalah bagian dari proses belajar dan tumbuh, dan bahwa kita dapat belajar dari kesalahan dan pengalaman.
Trending










































Kolom Komentar